// API callback
related_results_labels_thumbs({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","feed":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$openSearch":"http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/","xmlns$blogger":"http://schemas.google.com/blogger/2008","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3355628262164258749"},"updated":{"$t":"2023-10-12T06:27:27.104+07:00"},"category":[{"term":"Belajar"},{"term":"Info"},{"term":"Internasional"},{"term":"Pengetahuan"},{"term":"Sosial"},{"term":"Beasiswa"},{"term":"Kuliah"},{"term":"Indonesia"},{"term":"pendidikan"},{"term":"Kursus Online"},{"term":"Lingkungan"},{"term":"Psikologi"},{"term":"Pelatihan"},{"term":"Amazing"},{"term":"Lomba"},{"term":"kebudayaan"},{"term":"Definisi"},{"term":"Penelitian"},{"term":"kord piano"},{"term":"musik"},{"term":"Kegiatan"},{"term":"Konferensi"},{"term":"Konsep"},{"term":"Cara"},{"term":"Kesehatan"},{"term":"Makalah"},{"term":"melodi"},{"term":"Jurnalis"},{"term":"Metode"},{"term":"Teknologi"},{"term":"Bahasa"},{"term":"Fungsional"},{"term":"Kecerdasan"},{"term":"Kompetisi"},{"term":"Pekerjaan"},{"term":"Politik"},{"term":"Tips"},{"term":"Wirausaha"},{"term":"midi"},{"term":"Magang"},{"term":"Pegawai"},{"term":"Profesi"},{"term":"iklan"}],"title":{"type":"text","$t":"Saling Berbagi"},"subtitle":{"type":"html","$t":"Berbagi Membawa Berkah"},"link":[{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#feed","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/feeds\/posts\/default"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3355628262164258749\/posts\/default\/-\/Makalah?alt=json-in-script\u0026max-results=8"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/search\/label\/Makalah"},{"rel":"hub","href":"http://pubsubhubbub.appspot.com/"}],"author":[{"name":{"$t":"Umaru"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/14251278166588249881"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"generator":{"version":"7.00","uri":"http://www.blogger.com","$t":"Blogger"},"openSearch$totalResults":{"$t":"4"},"openSearch$startIndex":{"$t":"1"},"openSearch$itemsPerPage":{"$t":"8"},"entry":[{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3355628262164258749.post-7476327856154288310"},"published":{"$t":"2014-08-02T06:57:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2014-12-04T20:46:11.962+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Belajar"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Definisi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Info"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Makalah"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Penelitian"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Pengetahuan"}],"title":{"type":"text","$t":"Kapitalisme \u0026 Kelas Menengah di Indonesia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\n\u003Cb\u003EKapitalisme di Indonesia\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Menurut oxforddictionaries.com kapitalisme secara harafiah diartikan sebagai sebuah sistem ekonomi dan politik dimana bidang industri dan perdagangan cenderung lebih dikendalikan oleh sektor pribadi atau bukan negara. Kapitalisme di Indonesia sendiri sudah ada pada zaman kolonial Belanda, yaitu Belanda melakukan sistem tanam paksa untuk kepentingan Belanda, sedangkan pekerjanya adalah rakyat Indonesia itu sendiri. Dan kapitalisme di zaman modern ini, yang semakin banyak berkuasa di Indonesia. Contoh kapitalis dalam beberapa bidang, sebut saja produsen kendaraan bermotor seperti Suzuki, Honda, Yamaha, Ford, dan sebagainya yang dengan leluasa mengembangkan industrinya dan menjual produknya di Indonesia. Lalu dalam bidang Energi ada Exxon, Chevron, Eni, Total E\u0026amp;P, PetroChina, BP, Santos, dll. Dan yang paling banyak di pertanyakan adalah PT Freeport sebagai perusahaan penggali batu mulia yang ada di Papua.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kapitalis dapat masuk di Indonesia adalah akibat dari masuknya campur tangan pihak asing, dan dalam hal ini pihak asing telah memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan dari kekayaan yang ada di Indonesia. Pihak luar dapat masuk ke Indonesia karena tidak ada aturan untuk pihak asing dalam mengeruk kekayaan di Indonesia, politik luar negeri yang cenderung mengesampingkan kesejahteraan rakyat, serta para pemegang kekuasaan di Indonesia cenderung untuk memeroleh keuntungan dari pada memikirkan rakyat yang dipimpinnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EKonsumsi Kelas Menengah di Indonesia\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Berdasarkan media online antaranews.com\u0026nbsp; populasi kelas menengah mengalami kenaikan yang tajam, yaitu dari 37% pada 2004 menjadi 56,7% dari total penduduk di Indonesia pada 2013. Pada buku “satu dasawarsa membangun untuk kesejahteraan rakyat” yang diterbitkan oleh sekretarit kabinet SBY, kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang membelanjakan uang perharinya dengan kisaran dua Dollar AS hingga 20 Dollar AS. Tumbuhnya kelas menengah di Indonesia juga dapat dilihat dari data statistik jumlah kepemilikan kendaraan bermotor, jumlah penumpang pesawat terbang, jumlah rumah tangga yang memiliki HP, dan rumah tangga yang memiliki komputer serta memiliki akses internet. Litbang kompas mengkategorisasi kelas menegah mengikuti kategorisasi Bank Dunia. Pengeluaran per hari di bawah 2 dollar AS dalam penelitian ini digolongkan sebagai kelas miskin atau sangat bawah, 2-4 dollar AS kelas bawah, 4-10 dollar AS kelas menengah, 10-20 dollar AS mencerminkan kelas menengah atas, dan di atas 20 dollar AS mewakili kelas atas. \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Dari simpulan artikel diatas, dapat diterangkan bahwa kelas menengah di Indonesia adalah kelompok masyarakat yang memiliki pengeluaran 2 sampai 20 Dollar AS perharinya, dan saat ini kelas menengah di Indonesia menaik drastis dati tahun ketahun. Dalam hal belanja atau konsumsi barang, tentu saja kelas menengah menjadi sumber perhatian bagi para produsen. Hal ini dapat terjadi karena tingginya jumlah kelas menengah yang ada di Indonesia. Logikanya, kelas menengah yang ada di Indonesia sekitar 56,7% pada tahun 2013 dan setiap tahun diprediksi akan terus bertambah akan menaikkan tingkat penjualan oleh produsen barang di Indonesia, seperti penjualan makanan instan yang notabenenya kelas menengah suka dengan makanan tersebut.\u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003C\/b\u003E\n\u003Cb\u003EHubungan Kapitalis dengan Konsumsi Kelas Menengah di Indonesia\u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam menjelaskan hubungan antara kapitalis dan tingkat konsumsi kelas menengah di Indonesia, dapat bermula dari tujuan dari kapitalis itu sendiri. Tujuan dari kapitalis pada umumnya adalah mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya. Dari tujuan tersebut, para kapitalis berusaha keras agar hasil produksinya dapat laku terjual dipasaran, yang tentunya membawa keuntungan bagi kapitalis itu sendiri. \u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nUntuk mensukseskan tujuan tersebut, kapitalis menjalankannya dengan memprediksi calon pembeli atau pasar yang pas untuk menjual. Dan yang menjadi sasaran dalam menjual ini adalah negara dunia ketiga ataupun negara pinggiran, yang mana negara pinggiran masih dalam era perkembangan dan pasti memiliki celah dalam bidang produksi dan konsumsi. Negara Indonesia adalah negara tujuan yang empuk bagi para kapitalis terebut. Lihat saja kenyataan yang ada di Indonesia, banyak kelas menengah yang berbondong-bondong mengonsumsi merek-merek terkenal walaupun harganya yang relatif mahal, seperti ponsel Blackberry, Iphone, Ipad, dan sebagainya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKelas menengah yang banyak membuat para kapitalis merasa tertarik untuk memasarkan produknya kepada mereka, cara terbaik dalam memasarkan produk mereka adalah dengan cara agar kelas menengah tersebut memiliki rasa memiliki terhadap barang tersebut, misalnya membuat komunitas dalam mengonsumsi barang tertentu, seperti adanya komunitas Beat yang saat ini melanda kalangan mudah, dimana komunitas motor matik tersebut menjadi komunitas yang dianggap keren dan memiliki kelas tersendiri dalam mata pemuda, sehingga para pemuda akan merasa tertarik untuk bergabung, dan syarat bergabung dengan komunitas tersebut adalah dengan memiliki motor beat yang sama. Dari komunitas itu juga dilakukan kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian pemuda, seperti konvoi kendaraan ke pantai, jalan-jalan santai di kota, dan hal yang membuat pemuda tertarik yang lainnya. Dan pada akhirnya kendaraan bermotor tersebut akan hari semakin meningkat penjualannya.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/feeds\/7476327856154288310\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/2014\/08\/kapitalisme-kelas-menengah-di-indonesia.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3355628262164258749\/posts\/default\/7476327856154288310"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3355628262164258749\/posts\/default\/7476327856154288310"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/2014\/08\/kapitalisme-kelas-menengah-di-indonesia.html","title":"Kapitalisme \u0026 Kelas Menengah di Indonesia"}],"author":[{"name":{"$t":"Anonymous"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/01711385367013678158"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3355628262164258749.post-5832306590595597127"},"published":{"$t":"2014-06-21T08:48:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2014-12-10T08:25:03.052+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Belajar"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Definisi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Info"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"kebudayaan"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Konsep"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Kuliah"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Makalah"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pendidikan"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Penelitian"}],"title":{"type":"text","$t":"Stratifikasi Sosial dalam Kehidupan Beragama"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nMenurut Soerjono Soekanto di dalam setiap masyarakat dimanapun selalu dan pasti mempunyai sesuatu yang dihargai. Sesuatu yang dihargai di masyarakat bisa berupa kekayaan, ilmu pengetahuan, status, status “darah biru” atau keturunan dari keluarga tertentu yang terhormat, diberbagai masyarakat sesuatu yang dihargai tidaklah sama. Sebagian pakar meyakini bahwa pelapisan masyarakat sesungguhnya mulai ada sejak masyarakat mengenal kehidupan bersama, dalam masyarakat yang masih sederhana lapisan-lapisan masyarakat pada awalnya didasarkan pada perbedaan seks, umur atau bahkan kekuasaan. Max Weber, dia lebih menekankan mengenai lembaga sosial yang ada di agama itu sendiri, disini menurutnya terjadi kerjasama secara timbal balik diantara semua lembaga sosial, dan dalam kerjasama menunjukkan tentang betapa pentingnya lembaga agama dan pengaruhnya atas semua lembaga sosial lainnya.\u0026nbsp;\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\nAgama dan pelapisan sosial merupakan dua hal yang berbeda, namun tidak dipungkiri bahwa dalam kehidupan beragama terdapat bukti-bukti adanya stratifikasi yang terjadi dalam masyarakat beragama tersebut. \u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EDalam kehidupan beragama kristen \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPada masa kegelapan terjadi dominasi Gereja yang sangat kuat dimana gereja berkuasa atas apapun dengan mengatasnamakan kekuatan Tuhan. Pada akhirnya semua warga tunduk sampai pada suatu kasus dimana ada yang menentang kebijakan gereja ini, yaitu penentuan bahwa Bumi yang mengitari matahari atau Matahari yang mengitari bumi. Seorang pemikir bernama Galileo yang menentang pendapat itu dibakar hidup-hidup. \u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003E\u003Cbr \/\u003ESistem Kasta Pada Masyarakat Hindu \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nsistem ini yang paling terkenal dan paling kaku sehingga jika seseorang itu sudah berada pada kasta bawah sangat sulit atau bahkan tidak mungkin baginya untuk naik kasta. Adapun susunan kastanya adalah: Ksatria (raja-raja), Brahmana (agamawan), Waisya (Pedagang), Sudra (Pekerja kotor\/Buruh) dan Paria (Kelompok gelandangan, orang gila dan pengemis). Wells menyebut Kasta-Kasta ini dengan berkata “setelah kedatangan bangsa Arya masyarakat hindu telah terbagi kedalam kasta-kasta yang satu sama lain tidak saling mewakili, tidak berkeberatan, dan tidak bergaul dengan bebas. \u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EStratifikasi pada Masyarakat Islam \u003C\/b\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIslam tidak mengenal istilah stratifikasi sosial seperti dikatakan dalam alquran “bahwa setiap manusia dihadapanKu sama dan yang membedakannya adalah kadar ketaqwaannya saja”. Namun, dalam kehidupan masyarakat Islam ditemukan juga pelapisan-pelapisan sosial. Dalam stratifikasi sosial masyarakat muslim Jawa, terdapat sebuah model stratifikasi yang sangat populer, yakni model trikotomik cetusan Clifford Geertz. Model trikotomik Geertz menggolongkan masyarakat Mojokunto, Kediri yaitu santri, abangan dan priyayi, dimana: \u003C\/div\u003E\n\u003Cb\u003ESantri\u003C\/b\u003E, berpusat di daerah perdagangan atau pasar. Golongan ini berusaha mengamalkan ajaran Islam tanpa memasukkan unsur-unsur kepercayaan lainnya. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EAbangan\u003C\/b\u003E, berpusat di daerah pedesaan. Pengalaman keagamaan mereka merupakan campuran Islam dengan animisme. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cb\u003EPriyayi\u003C\/b\u003E, berpusat di kantor pemerintah. Pengalaman agama mereka banyak dipengaruhi aspek-aspek Hindu.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nTrikotomi Geertz memang sejak awal membingungkan karena mencampuradukkan aspek keberagaman dengan stratifikasi sosial dan dalam kenyataan tidak sesederhana itu karena masing-masing terjadi konversi dan perbauran.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/feeds\/5832306590595597127\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/2014\/06\/stratifikasi-sosial-dalam-kehidupan.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3355628262164258749\/posts\/default\/5832306590595597127"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3355628262164258749\/posts\/default\/5832306590595597127"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/2014\/06\/stratifikasi-sosial-dalam-kehidupan.html","title":"Stratifikasi Sosial dalam Kehidupan Beragama"}],"author":[{"name":{"$t":"Anonymous"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/01711385367013678158"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3355628262164258749.post-647611182925712984"},"published":{"$t":"2014-06-01T11:43:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2015-03-02T05:58:56.217+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Belajar"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Definisi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Kuliah"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Makalah"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Sosial"}],"title":{"type":"text","$t":"Perkenalan Ekonomi Formal dan Non-Formal"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\n\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nYang membedakan kedua sektor usaha ini di bedakan dari kelengkapan administrasi atau persyaratan formal yang ditetapkan oleh ketentuan yang berlaku di Negara Republik Indonesia untuk usaha mikro dan kecil diharuskan mempunyai: Akta pendirian perusahaan dan Akte perubahannya serta inin izin seperti SIUP, SITU, NPWP, TDP, Ijin Domilisi , dll.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDiluar ketentuan tersebut sektor usaha dinamakan sektor usaha informal. \u003Cbr \/\u003E\nKarakteristik sektor informal :\u003Cbr \/\u003E\n1.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Tidak memiliki ijin tempat usaha (biasanya hanya ijin dari RW setempat)\u003Cbr \/\u003E\n2.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Modal tidak terlalu besar\u003Cbr \/\u003E\n3.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Jumlah pekerja tidak terlalu banyak\u003Cbr \/\u003E\n4.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Dalam menjalankan usaha tidak memerlukan pendidikan formal\u003Cbr \/\u003E\n5.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Teknologi yang digunakan sangat sederhana\u003Cbr \/\u003E\n6.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Kurang terorganisir\u003Cbr \/\u003E\n7.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Jam usaha tidak teratur\u003Cbr \/\u003E\n8.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Jenis usaha yang di kerjakan biasanya dalam bentuk: pengrajinan, perdagangan dan jasa\u003Cbr \/\u003E\n9.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Hasil produksi cenderung untuk segmen menengah ke bawah\u003Cbr \/\u003E\n10.\u0026nbsp;\u0026nbsp;\u0026nbsp; Biaya pungutan yang dikeluarkan cukup banyak.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"-x-system-font: none; display: block; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-size-adjust: none; font-size: 14px; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; margin: 12px auto 6px auto;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/id.scribd.com\/doc\/227431578\/Sektor-Formal-Dan-Informal\" style=\"text-decoration: underline;\" title=\"View Sektor Formal Dan Informal on Scribd\"\u003ESektor Formal Dan Informal\u003C\/a\u003E by \u003Ca href=\"http:\/\/www.scribd.com\/Umaruddin__4630\" style=\"text-decoration: underline;\" title=\"View Muhammad Umaruddin's profile on Scribd\"\u003EMuhammad Umaruddin\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Ciframe class=\"scribd_iframe_embed\" data-aspect-ratio=\"0.7085624509033779\" data-auto-height=\"false\" frameborder=\"0\" height=\"600\" id=\"doc_96258\" replaced=\"true\" s11876318304011471943=\"true\" scrolling=\"no\" src=\"\/\/www.scribd.com\/embeds\/227431578\/content?start_page=1\u0026amp;view_mode=scroll\u0026amp;access_key=key-Q58R0t9kZTdgyKBsnWji\u0026amp;show_recommendations=true\" width=\"400\"\u003E\u003C\/iframe\u003E\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/feeds\/647611182925712984\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/2014\/06\/perkenalan-ekonomi-formal-dan-non-formal.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3355628262164258749\/posts\/default\/647611182925712984"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3355628262164258749\/posts\/default\/647611182925712984"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/2014\/06\/perkenalan-ekonomi-formal-dan-non-formal.html","title":"Perkenalan Ekonomi Formal dan Non-Formal"}],"author":[{"name":{"$t":"Anonymous"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/01711385367013678158"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-3355628262164258749.post-2494757838043445765"},"published":{"$t":"2011-08-18T09:10:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2016-07-10T11:56:15.756+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Belajar"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Definisi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Konsep"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Kuliah"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Makalah"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"Sosial"}],"title":{"type":"text","$t":"Asal Mula Sosiologi"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv dir=\"ltr\" style=\"text-align: left;\" trbidi=\"on\"\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-QFFsx8_eS1k\/Tkx0N4IkvrI\/AAAAAAAAAH8\/bvgQNWNelgc\/s1600\/com1pte.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: justify;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"150\" src=\"https:\/\/2.bp.blogspot.com\/-QFFsx8_eS1k\/Tkx0N4IkvrI\/AAAAAAAAAH8\/bvgQNWNelgc\/s200\/com1pte.jpg\" width=\"200\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSosiologi pertama kali dipopulerkan oleh seorang filsuf Perancis, Auguste Comte (1798-1857), dalam bukunya Course de Philosophie. Comte disebut sebagai bapak Sosiologi karena dialah yang pertama kali memakai istilah sosiologi dan mengkaji secara sistematis.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSeperti ilmu-ilmu yang lain, pada awalnya sosiologi merupakan bagian dari ilmu filsafat yang juga mempelajari tentang masyarakat. Namun, pada masa itu pembahasannya hanya berkisar pada peristiwa seputar perang, gejolak antarkelas sosial, konflik antarras maupun antaretnis, kedudukan dalam kelas-kelas penguasa, dan sebagainya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDalam perkembangannya, pembahasan mengenai masyarakat ini semakin kompleks, yakni mencakup susunan kehidupan dalam masyarakat, seperti nilai dan norma, struktur sosial, proses sosial dan sebagainya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAkhirnya, sejak pertengahan abad ke-19, ilmu sosiologi melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Hal ini diawali dengan adanya kekhawatiran Auguste Comte akan keadaan masyarakat Perancis sejak pecahnya Revolusi Perancis. Selain berdampak positif munculnya era demokrasi dalam masyarakat, Revolusi Perancis juga berdampak negatif, yaitu konflik antarkelas sosial. Konflik ini muncul karena masyarakat tidak tahu bagaimana cara menyikapi perubahan-perubahan sosial yang begitu cepat. Akibatnya, terjadi Chaos dan anarkisme pada masyarakat Perancis.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nAtas dasar itulah Comte mengusulkan untuk meningkatkan semua penelitian tentang masyarakat menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Dia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan mempunyai urutan-urutan tertentu berdasarkan loika berpikir. Sebuah penelitian yang dilakukan harus mengikuti tahapan-tahapan berpikir untuk mendapatkan kesimpulan, yaitu tahap ilmiah. Oleh karena itu, dia menyarankan agar semua penelitian terhadap masyarakat tersebut dinamakan dengan ilmu Sosiologi.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\n\u003Ca href=\"http:\/\/2.bp.blogspot.com\/-0j1Lxdz1IYs\/Tkx0kQRiROI\/AAAAAAAAAIE\/HmzsDzbHRq8\/s1600\/herbert-spencer-1-sized.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" height=\"200\" src=\"https:\/\/2.bp.blogspot.com\/-0j1Lxdz1IYs\/Tkx0kQRiROI\/AAAAAAAAAIE\/HmzsDzbHRq8\/s200\/herbert-spencer-1-sized.jpg\" width=\"167\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nIstilah Sosiologi semakin berkembang pada abad ke-20 sejak Herbert Spencer mengembangkan suatu sistematika penelitian masyarakat dalam bukunya yang berjudul Principles of Sosiology.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDi dalam buku tersebut Spencer mengembagkan sitem penelitian tentang masyarakat. Ia mengembangkan teori evolusi organik dan evolusi sosial. menurut pendapatnya, masyarakat bagaikan sebuah organ yang akan lebih sempurna jika organ tersebut bertambah kompleks karena adanya perbedaan (diferensiasi) yang ada dalam bagian-bagiannya. masyarakat merupakan sebuah sistem yang tersusun dari berbagai macam kelompok-kelompok sosial yang akan salaing bergantung satu sama lain.\u003C\/div\u003E\n\u003C\/div\u003E\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/feeds\/2494757838043445765\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/2011\/08\/asal-mula-sosiologi.html#comment-form","title":"3 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3355628262164258749\/posts\/default\/2494757838043445765"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/3355628262164258749\/posts\/default\/2494757838043445765"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.salingbagi.com\/2011\/08\/asal-mula-sosiologi.html","title":"Asal Mula Sosiologi"}],"author":[{"name":{"$t":"Umaru"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/14251278166588249881"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/2.bp.blogspot.com\/-QFFsx8_eS1k\/Tkx0N4IkvrI\/AAAAAAAAAH8\/bvgQNWNelgc\/s72-c\/com1pte.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"3"}}]}});