Translate

Home » , , » Mengenal Suku Bajo (Manusia Air) dari Indonesia

Mengenal Suku Bajo (Manusia Air) dari Indonesia

Written By Saya Salingbagi on Kamis, 22 Mei 2014 | 5/22/2014 05:30:00 PM


Suku Bajo (Bajau) berada di Sulawesi Tengah yang juga dikenal sebagai suku pengarung laut. Suku bajo tidak membangun rumahnya di darat/atas tanah, melainkan di atas air, dengan sebagian tiang berada di terumbuh karang atau semua tiang dibangun diatas terumbuh karang agar tetap kokoh. Dalam kaitannya dengan pendekatan ekosistemik, suku bajo memiliki Tradisi Mamia Kadialo (Melaut). Tradisi Mamia Kadialo ini merupakan pengelompokkan orang ketika ikut melaut dalam jangka waktu tertentu dan perahu yang digunakan, tradisi ini terbagi menjadi tiga macam adalah sebagai berikut:
1.    Palilibu yaitu menggunakan perahu Soppe yang digerakkan menggunakan dayung, dengan rentan waktu 1—2 hari melaut, kemudian kembali pulang dengan membawa hasil melaut untuk di konsumsi pribadi atau dijual.
2.    Bapongka (babangi) yaitu menggunakan perahu besar dengan ukuran kurang lebih 4 x 2 meter, dengan rentan waktu beberapa minggu.
3.    Sasakai yaitu menggunakan beberapa perahu, dengan rentan waktu beberapa bulan.
Yang mana dalam tradisi tersebut terdapat pantangan yang harus dipatuhi, yaitu:
1.    Tidak membuang kelaut seperti, air cucian teripang, arang kayu (abu dapur), puntung/abu rokok, air cabai, jahe dan air perasan jeruk, dan mencuci alat masak di perairan laut.
2.    Memakan daging penyu (karena penyu dipercaya telah banyak menolong manusia yang mengalami musibah)

Dalam keyakinan suku Bajo, mereka percaya terhadap Umboh, yaitu penguasa laut, yang memberikan isi lautnya untuk semua manusia. Konsep hidup secukupnya dituangkan dalam aturan batas melaut yaitu sejauh kayuh sampan, sekuat tangan mendayung. Dalam melaut, sedikitnya dua ekor ikan hasil tangkapan harus diberikan kepada Umboh (dikembalikan ke laut). Suku Bajo juga menggunakan peralatan untuk melaut yang masih tradisional yang tentunya tidak merusak perairan laut dan terumbuh karang, seperti tombak dan panah, jaring, dan bubuh.

Suku Bajo sangat menjaga lingkungan laut karena mereka juga sangat membutuhkan laut sebagai sumber energi atau kehidupan mereka. Apabila laut dijaga dengan baik, maka ikan-ikan juga akan mendapatkan kehidupan yang baik, yang mana nantinya ikan itu akan di ambil oleh manusia sebagai sumber energi. Pada akhirnya tradisi ini dianggap sebagai sebuah siklus kehidupan, manusia dan makhluk hidup laut butuh laut, manusia menjaga laut sehingga laut juga akan memberikan apa yang dibutuhkan oleh manusia.

Referensi:
1,2,3

0 comment :

Posting Komentar

Selamat Datang

Selamat Datang
Berbagi membawa Berkah :)

ikuti kami