Translate

Home » , , » Stratifikasi Sosial dalam Kehidupan Beragama

Stratifikasi Sosial dalam Kehidupan Beragama

Written By Saya Salingbagi on Senin, 28 April 2014 | 4/28/2014 08:06:00 AM


         Menurut Soerjono Soekanto di dalam setiap masyarakat dimanapun selalu dan pasti mempunyai sesuatu yang dihargai. Sesuatu yang dihargai di masyarakat bisa berupa kekayaan, ilmu pengetahuan, status, status “darah biru” atau keturunan dari keluarga tertentu yang terhormat, diberbagai masyarakat sesuatu yang dihargai tidaklah sama. Sebagian pakar meyakini bahwa pelapisan masyarakat sesungguhnya mulai ada sejak masyarakat mengenal kehidupan bersama, dalam masyarakat yang masih sederhana lapisan-lapisan masyarakat pada awalnya didasarkan pada perbedaan seks, umur atau bahkan kekuasaan. Max Weber, dia lebih menekankan mengenai lembaga sosial yang ada di agama itu sendiri, disini menurutnya terjadi kerjasama secara timbal balik diantara semua lembaga sosial, dan dalam kerjasama menunjukkan tentang betapa pentingnya lembaga agama dan pengaruhnya atas semua lembaga sosial lainnya.
Agama dan pelapisan sosial merupakan dua hal yang berbeda, namun tidak dipungkiri bahwa dalam kehidupan beragama terdapat bukti-bukti adanya stratifikasi yang terjadi dalam masyarakat beragama tersebut.

Dalam kehidupan beragama kristen
          Pada masa kegelapan terjadi dominasi Gereja yang sangat kuat dimana gereja berkuasa atas apapun dengan mengatasnamakan kekuatan Tuhan. Pada akhirnya semua warga tunduk sampai pada suatu kasus dimana ada yang menentang kebijakan gereja ini, yaitu penentuan bahwa Bumi yang mengitari matahari atau Matahari yang mengitari bumi. Seorang pemikir bernama Galileo yang menentang pendapat itu dibakar hidup-hidup.

Sistem Kasta Pada Masyarakat Hindu
       sistem ini yang paling terkenal dan paling kaku sehingga jika seseorang itu sudah berada pada kasta bawah sangat sulit atau bahkan tidak mungkin baginya untuk naik kasta. Adapun susunan kastanya adalah: Ksatria (raja-raja), Brahmana (agamawan), Waisya (Pedagang), Sudra (Pekerja kotor/Buruh) dan Paria (Kelompok gelandangan, orang gila dan pengemis). Wells menyebut Kasta-Kasta ini dengan berkata “setelah kedatangan bangsa Arya mesyarakat hindu telah terbagi kedalam kasta-kasta yang satu sama lain tidak saling mewakili, tidak berkeberatan, dan tidak bergaul dengan bebas.

Stratifikasi pada Masyarakat Islam
        Islam tidak mengenal istilah stratifikasi sosial seperti dikatakan dalam alquran “bahwa setiap manusia dihadapanKu sama dan yang membedakannya adalah kadar ketaqwaannya saja”. Namun, dalam kehidupan masyarakat Islam ditemukan juga pelapisan-pelapisan sosial. Dalam stratifikasi sosial masyarakat muslim Jawa, terdapat sebuah model stratifikasi yang sangat populer, yakni model trikotomik cetusan Clifford Geertz. Model trikotomik Geertz menggolongkan masyarakat Mojokunto, Kediri yaitu santri, abangan dan priyayi, dimana:
Santri, berpusat di daerah perdagangan atau pasar. Golongan ini berusaha mengamalkan ajaran Islam tanpa memasukkan unsur-unsur kepercayaan lainnya.
Abangan, berpusat di daerah pedesaan. Pengalaman keagamaan mereka merupakan campuran Islam dengan animisme.
Priyayi, berpusat di kantor pemerintah. Pengalaman agama mereka banyak dipengaruhi aspek-aspek Hindu.
Trikotomi Geertz memang sejak awal membingungkan karena mencampuradukkan aspek keberagaman dengan stratifikasi sosial dan dalam kenyataan tidak sesederhana itu karena masing-masing terjadi konversi dan perbauran.

Kesimpulan
         Menurut agama, pada dasarnya tidak ada pelapisan masyarakat (stratifikasi sosial) di dalam kehidupan beragama, Kecuali agama Hindu. Karena manusia diciptakan sama,  yang membedakan hanyalah dari taat tidaknya manusia itu dalam mengabdikan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adanya pelapisan sosial tersebut adalah buah pikir dari manusia itu sendiri, yang membeda-bedakan berdasarkan hak istimewa, seperti ekonomi, status dan peran, jabatan, usia dan lain sebagainya. Sehingga muncullah stratifikasi sosial diantara masyarakat, tidak dipungkiri juga masuk kedalam kehidupan beragama. Misalnya, orang yang mengajarkan agama (pendeta ataupun ustad) dianggap memiliki tempat yang lebih baik dibandingkan dengan masyarakat biasa.
       Dan juga dapat dipastikan bahwa, setiap agama memiliki sistem pelapisan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Agama Islam yang beranggapan tidak ada stratifikasi sosial-pun menurut Geertz ada 3 pelapisan yaitu, Priyayi, abangan dan Santri. Sedangkan agama Hindu yang dengan mutlaknya membagi 5 lapisan yaitu, Brahmana, Kstaria, waisya, sudra, paria, yang mana sistem ini merupakan stratifikasi sosial tertutup dengan berdasarkan kelahiran (keturunan).

0 comment :

Posting Komentar

Selamat Datang

Selamat Datang
Berbagi membawa Berkah :)

ikuti kami